Ijinkan aku belajar melupakanmu. Aku yakin, kau pasti menginginkan aku
mempelajari itu. Namun aku ragu, benarkah tidak ada setitik cinta pun di hatimu
terhadapku. Setelah semua kenangan yang kita ciptakan. Setelah semua memoriku
terisi oleh namamu.
Aku sadar. Mungkin dalam
perjalanan panjang kita pun engkau telah tersadar. Aku tak pantas untukmu. Aku
hanyalah serpihan debu yang tak berarti, sedangkan engkau laksana puteri
bagiku.
Apa hanya cukup dengan maaf? Lantas pergi meninggalkan
aku seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara kita. Semudah itukah melupakan
aku.
Jujur, jalan pikiranmu tak
pernah kumengerti. Baru semalam engkau mengucapkan selamat tahun baru buat aku
dengan kata-kata yang manis dan aku merasa tersanjung, tapi paginya engkau
campakkan aku dalam kesepian.
Sekarang, ijinkanlah aku
belajar melupakan. Melupakan semua kenangan yang ada dalam memori ini.
Melupakan semua tawamu, melupakan semua kebaikanmu, melupakan semua tatapan
itu. Ijinkanlah aku buyar dalam hitam pekat tak bermasa yang kan selalu abadi.
Dulu, kau menarikku dari
kesepian. Engkau ibarat cahayaku dalam kegelapan. Sekarang, setelah takdir kita
selesai, aku kan kembali berada dalam gelapku tanpa cahayamu.
Aku heran, kemana dulu ucapan-ucapan dan tangismu tentang “JANGAN TINGGALKAN
AKU.” Dirumah teman kita di pantai kelapa dan Aku ingin mendengarkannya untuk
terakhir.
Haruskah aku menjadi
paranoid dalam cinta? Belajar dari kisah bahwa cinta hanya ada untuk menyakiti.
Belajar untuk menyakiti dahulu agar aku tak tersakiti?
Di sini, aku terus
menunggumu…
Menunggu sembari aku
meringkuk dalam sepi. Sembari mengucapkan doa agar engkau bahagia. Tak perlu
engkau mengeja lagi perasaan hatiku dan meminta maaf karena telah menyakitiku.
Sebelum kau berkata itu, aku telah memaafkanmu.
Bahkan temanku heran
melihatku betapa aku mencintaimu. Bahkan dia berkata, “Rio, sebenarnya apa
lagi sih yang loe harapin dari dia? Hidup loe masih panjang Rio… masih banyak
yang harus loe pikirkan. Bukan cuma dia!” Tapi
sesungguhnya itu hanya kata mereka sedangkan kata hatiku tidak seperti
itu,hatiku ini tidak berbohong dan hatiku mengatakan kau masih tetap
milikku.
Kejarlah mimpimu sayangku. Aku akan selalu mendukungmu, bahkan jika kelak
engkau ingin meruntuhkan langit yang menaungi kita, aku juga akan turut
berperang bersamamu.
Bahkan jika suatu hari engkau telah berhasil memilih pria yang akan berdiri
di sampingmu. Bahkan jika pria itu bukan aku, aku tetap akan selalu mendukungmu
selama cinta ini masih di dalam hati.
Aku sudah berusaha untuk melupakanmu, tetapi selaksa rindu menyerangku. Maafkan aku yang terlalu
mencintaimu. Maafkan aku yang tak sanggup menahan serangan rindu itu. Saat aku
menulis tulisan ini, aku masih sangat mencintaimu walau ku tahu engkau tak lagi
mencintaiku.
Andaikan aku boleh memilih,
aku ingin kita tetap bersama. Tetapi sudahlah, aku rasa engkau tak akan
mau. Sayangku, semoga engkau
bahagia. Aku selalu berharap yang terbaik untukmu.